Sidenreng Rappang — Pemerintah Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) terus mematangkan program optimasi lahan non rawa seluas 15 ribu hektare yang diproyeksikan menjadi salah satu langkah strategis dalam memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan produktivitas pertanian daerah. Program ini ditargetkan mulai berjalan secara bertahap pada tahun anggaran berjalan hingga beberapa tahun ke depan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/RAPAT-KOORDINASI-OPLA.jpg)
Bupati Sidrap menegaskan, optimasi lahan non rawa merupakan bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam mendukung program nasional swasembada pangan, khususnya komoditas padi. “Sidrap memiliki potensi lahan pertanian yang sangat besar. Melalui program ini, kita ingin memastikan lahan yang selama ini kurang produktif bisa dioptimalkan dan memberi nilai tambah bagi petani,” ujarnya dalam rapat koordinasi pertanian, baru-baru ini.
Program optimasi ini mencakup perbaikan sistem irigasi, pengolahan tanah, penyediaan sarana produksi pertanian, hingga pendampingan teknis kepada petani. Pemerintah daerah juga menggandeng instansi terkait, termasuk TNI, dinas teknis, serta penyuluh pertanian lapangan untuk memastikan pelaksanaannya berjalan efektif dan terukur.
Baca Juga : Bawa Pulang Piala Gubernur, Bupati dan Wabup Sidrap Sambut Kepulangan Laskar Ganggawa
Kepala Dinas Pertanian Sidrap menjelaskan, lahan non rawa yang akan dioptimalkan tersebar di beberapa kecamatan sentra produksi padi. “Total luas yang kami siapkan mencapai 15 ribu hektare. Tahap awal akan difokuskan pada lahan yang memiliki akses air dan infrastruktur pendukung,” jelasnya.
Indeks Pertanaman Ditargetkan Naik Hingga Tiga Kali Setahun
Selain peningkatan produksi, program ini juga diarahkan untuk menekan biaya produksi petani sekaligus mempercepat masa tanam. Dengan sistem pengelolaan lahan yang lebih baik, diharapkan indeks pertanaman dapat meningkat dari satu kali tanam menjadi dua hingga tiga kali dalam setahun.
Pemkab Sidrap menargetkan hasil dari optimasi lahan ini mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan produksi beras daerah. “Kalau ini berjalan maksimal, dampaknya bukan hanya pada stok pangan, tetapi juga pada peningkatan pendapatan petani dan stabilitas ekonomi lokal,” tambah Bupati.
Dukungan anggaran untuk program ini bersumber dari APBD serta sinergi dengan pemerintah pusat. Pemerintah daerah juga membuka ruang kerja sama dengan pihak swasta dalam penguatan sarana dan prasarana pertanian.
Dengan kesiapan lahan, dukungan teknologi, serta keterlibatan aktif petani, Pemkab Sidrap optimistis program optimasi lahan non rawa 15 ribu hektare ini akan menjadi motor penggerak baru sektor pertanian dan memperkuat posisi Sidrap sebagai salah satu lumbung pangan utama di Sulawesi Selatan.

















