Sidenreng Rappang – Penertiban dan razia rutin terhadap pengemis dan gelandangan di Kota Makassar tampaknya belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan. Justru, fenomena baru muncul ketika para pengemis yang sering terjaring razia memilih “hijrah” ke daerah lain, seperti Kabupaten Pangkep dan Sidrap.
Berdasarkan pantauan di lapangan, dalam beberapa bulan terakhir jumlah pengemis di sejumlah titik strategis di Pangkep dan Sidrap mengalami peningkatan. Mereka terlihat beroperasi di lampu merah, pasar tradisional, hingga area perbelanjaan. Mayoritas di antara mereka mengaku berasal dari Makassar dan sengaja pindah karena merasa “tidak nyaman” akibat razia yang intens dilakukan oleh Satpol PP Kota Makassar.
Kepala Satpol PP Makassar, Iqbal Asnan, mengungkapkan bahwa razia rutin terhadap PMKS (Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial) terus dilakukan guna menjaga ketertiban umum serta meminimalkan praktik eksploitasi di jalanan. “Kami tidak akan mentoleransi pengemis yang kembali turun ke jalan. Tapi rupanya sebagian memilih pindah ke daerah tetangga,” ujarnya, Rabu (23/7/2025).
Baca Juga : Anjal-Gepeng di Makassar Bergeser ke Pangkep-Sidrap gegara Diawasi Ketat
Hal senada juga disampaikan oleh pihak Dinas Sosial Pangkep. Mereka mencatat adanya lonjakan pengemis baru yang bukan berasal dari wilayah lokal. Kepala Dinsos Pangkep, Hj. Nurhayati, menyebutkan, “Banyak dari mereka tidak memiliki KTP daerah sini. Setelah ditelusuri, ternyata mayoritas berasal dari Makassar. Ini menjadi tantangan baru bagi kami.”
Pengemis di Makassar Menyasar Pangkep hingga Sidrap
Pemerintah daerah di Pangkep dan Sidrap kini mulai menyiapkan strategi serupa, yakni menggelar razia gabungan bersama aparat kepolisian dan Satpol PP setempat. Dinsos pun berencana menyiapkan tempat penampungan sementara serta pendataan ulang terhadap para pengemis yang tidak memiliki identitas jelas.
Sosiolog dari Universitas Hasanuddin, Dr. Baharuddin, menilai fenomena perpindahan ini sebagai bentuk resistensi sosial akibat tekanan regulasi di kota besar. “Selama akar masalahnya—seperti kemiskinan struktural dan minimnya pemberdayaan—tidak diselesaikan, maka perpindahan semacam ini akan terus terjadi,” jelasnya.
Pemerintah diharapkan tidak hanya fokus pada penindakan, tetapi juga penguatan program rehabilitasi sosial, pelatihan keterampilan, dan dukungan usaha kecil agar para pengemis bisa keluar dari lingkaran kemiskinan.
Dengan perpindahan pengemis dari Makassar ke Pangkep dan Sidrap. Kolaborasi antarwilayah menjadi sangat penting untuk menciptakan solusi jangka panjang yang berkelanjutan.

















