Shoppe Mall
Shoppe Mall
Shoppe Mall Shoppe Mall Shoppe Mall

Banyak Pasien Tak Sadar Terinfeksi Tuberkulosis (TBC), dr Nurjannah Ingatkan Risiko dan Cara Penanganannya

banner 120x600
banner 468x60

Sidenreng Rappang – Meski telah lama dikenal, tuberkulosis (TBC) masih menjadi penyakit menular yang sulit diberantas di Indonesia. Salah satu penyebab utamanya adalah rendahnya kesadaran masyarakat terhadap gejala awal dan pentingnya pengobatan yang tuntas.

“Masih banyak pasien yang enggan memeriksakan diri atau berhenti minum obat karena merasa sudah sehat. Padahal itu sangat berisiko,” ujar dr Nurjannah Lihawa, SpP(K), dalam wawancara via telepon, Jumat (18/7/2025).

banner 325x300
Manfaat Pemberian Propolis bagi Pasien Tuberkulosis - IPB University
Banyak Pasien Tak Sadar Terinfeksi Tuberkulosis (TBC), dr Nurjannah Ingatkan Risiko dan Cara Penanganannya

dr Nurjannah, yang akrab disapa dr Nuke, menegaskan bahwa pengobatan TBC bukan hanya untuk kesembuhan diri, tetapi juga demi mencegah penularan ke orang lain. Ketika pengobatan dihentikan di tengah jalan, ada dua konsekuensi besar yang bisa terjadi.

Pertama, pasien tetap bisa mengalami kerusakan paru-paru permanen meskipun kuman TBC telah mati. “Jadi meski sudah sembuh secara klinis, gejala seperti sesak napas bisa tetap muncul karena kerusakan jaringan paru,” katanya.

Kedua, pasien berisiko mengembangkan TBC kebal obat (MDR-TB). “Ini jauh lebih sulit diobati. Durasi pengobatannya bisa dua kali lebih lama dan biayanya jauh lebih besar,” jelas dr Nuke.

dr Nuke Ingatkan Bahaya dan Cara Penanganan yang Tepat

Gejala TBC sering kali tidak disadari sejak awal. Banyak orang mengira hanya flu atau kelelahan. Padahal, batuk lebih dari dua minggu, nyeri dada, berat badan turun, hingga keringat malam adalah tanda-tanda yang perlu diwaspadai.

Baca Juga : 1.000 Seragam Gratis Siap Didistribusi ke Delapan Sekolah di Makassar

Selain itu, dr Nuke menjelaskan bahwa TBC bisa bertahan lama dalam tubuh dalam kondisi dorman (tidur), lalu aktif kembali saat daya tahan tubuh menurun.

“Bisa jadi terpapar waktu kecil, tapi baru muncul saat dewasa karena imunitas melemah akibat stres, kurang tidur, atau merokok,” jelasnya.

Lingkungan padat, ventilasi buruk, serta tidak memakai masker saat kontak dengan pasien juga memperbesar risiko penularan.

Ia menegaskan bahwa jika satu anggota keluarga dinyatakan positif TBC, maka seluruh anggota rumah harus diperiksa dan menjalani terapi pencegahan jika diperlukan.

“Kalau tidak dicegah bersama-sama, bisa terjadi infeksi ‘pingpong’ di dalam rumah, saling menular,” tegasnya.

dr Nuke pun menutup dengan imbauan agar masyarakat menjalani pola hidup bersih dan sehat (PHBS), tidur cukup, tidak merokok, serta memakai masker jika berada di dekat pasien TBC.

“Obat TBC itu gratis, yang mahal adalah ketidaktahuan dan kelalaian,” tutupnya.

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *